Logo LP Ma'arif NU
LP Ma'arif NU
Kab. Pekalongan
Beranda Berita Perkuat Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar Gelar IHT
Berita Pendidikan

Perkuat Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar Gelar IHT

30 Agustus 2026 Admin Ma'arif NU 67 dilihat
Perkuat Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar Gelar IHT
Pekalongan, 30 Agustus 2026 — MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar menyelenggarakan In House Training (IHT) bagi tenaga pendidik dan kependidikan sebagai upaya memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam proses pembelajaran dan budaya madrasah. Kegiatan berlangsung di Hotel Howard Johnson pada Ahad (30/8/2026), mulai pukul 09.30 hingga sekitar pukul 13.15 WIB.
Kegiatan tersebut menghadirkan H. Shofar Sholahudin Bisri, M.Pd., Pengawas Sekolah Ahli Madya MA Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal sekaligus salah satu Tim Perumus Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai narasumber utama.
IHT diikuti oleh 70 peserta yang terdiri atas tenaga pendidik dan kependidikan MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar. Sebanyak 39 peserta berasal dari MTs, sedangkan 31 peserta berasal dari MI.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan H. Mukhammad Irham, M.Pd.I., Pengawas MTs H. Suyoto, S.Pd., M.S.I., M.Si., Pengawas MI Dra. H. Munifah, M.Pd.I., jajaran Pengurus Yayasan Madrasah Salafiyah, serta jajaran komite madrasah.
Implementasi KBC Perlu Diperkuat

Dalam sambutan yang mewakili Kepala MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar, H. Khoeron, S.Pd. menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan beserta para pengawas dan narasumber yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada H. Shofar Sholahudin yang berkenan hadir dari Kabupaten Tegal ke Pekalongan untuk memberikan pembekalan kepada para pendidik. Menurutnya, IHT menjadi kegiatan penting meskipun para guru telah banyak mengikuti berbagai pelatihan termasuk salah satunya melalui aplikasi Pintar. Pelatihan melalui platform digital tersebut perlu diperkuat dengan implementasi nyata di lingkungan madrasah.

Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Madrasah Salafiyah, Khoirul Huda, S.Pd., menegaskan bahwa pengelolaan pendidikan di MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar merupakan tanggung jawab bersama. 
“Sekitar 1.400 murid menjadi tanggung jawab kita bersama. Mereka harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar menghasilkan output yang berkualitas serta memiliki karakter yang kuat, terutama dalam iman, akhlak, dan ilmu,” tuturnya.

Guru Harus Menjadi Teladan Panca Cinta

Mewakili jajaran pengawas madrasah, Dra. H. Munifah, M.Pd.I. berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti kegiatan dengan saksama, menyimak materi secara serius, serta aktif mengajukan pertanyaan apabila terdapat hal-hal yang belum dipahami.
Ia menjelaskan bahwa KBC pada dasarnya diarahkan pada implementasi penguatan karakter melalui Panca Cinta. Karena itu, guru sebagai pendidik sekaligus teladan perlu terlebih dahulu mengimplementasikan nilai-nilai cinta tersebut dalam dirinya.
“Guru adalah teladan. Karena itu, Panca Cinta tidak cukup hanya disampaikan kepada peserta didik, tetapi harus terlebih dahulu diwujudkan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.

Kemenag Dorong Digitalisasi Madrasah

Kegiatan IHT kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan, H. Mukhammad Irham, M.Pd.I.
Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi kepada MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar yang tetap berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia madrasah melalui kegiatan IHT. Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan di tengah kondisi efisiensi anggaran menunjukkan adanya kesungguhan madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Ia menyampaikan beberapa pesan penting kepada para peserta. Pertama, madrasah perlu semakin serius melakukan digitalisasi pembelajaran. Menurutnya, digitalisasi dapat menjadi sarana untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih mudah, fleksibel, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Kedua, digitalisasi juga perlu dilakukan dalam hal publikasi dan pengenalan madrasah kepada masyarakat. Madrasah yang aktif membangun eksistensinya di media sosial akan lebih mudah dikenal, sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai program, kegiatan, dan berbagai keunggulan yang dimiliki madrasah.
Selain itu, H. Mukhammad Irham mengingatkan para guru madrasah agar tidak terjebak dalam gaya hidup hedonis. Sebaliknya, guru diharapkan lebih mengedepankan orientasi akhirat dengan menjalankan tugas secara ikhlas.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan motto Kementerian Agama, “Ikhlas Beramal.” Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan dengan keikhlasan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta didik dan madrasah, tetapi juga diharapkan membawa keberkahan bagi Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan.


Memaknai Cinta dalam Pembelajaran

Memasuki sesi inti, H. Shofar Sholahudin Bisri mengajak seluruh peserta terlebih dahulu memahami makna cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta secara tepat.
Ia mengkontraskan antara cinta hakiki dan cinta romantis. Menurutnya, cinta romantis memiliki sisi positif dan negatif sehingga dapat digunakan ketika menghadirkan dampak positif dan ditinggalkan ketika memberikan dampak negatif. Sementara itu, cinta hakiki sebagaimana yang menjadi landasan KBC hanya memiliki satu sisi yang positif dan mengarah pada kebaikan.
Dalam implementasinya di madrasah, KBC diwujudkan melalui empat ruang utama, yaitu intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya madrasah. Agar implementasinya dapat berlangsung secara sistematis dan menghasilkan output yang jelas, pintu masuknya adalah Panca Cinta, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta alam, cinta diri dan orang lain, serta cinta tanah air.
Shofar tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, tetapi juga mempraktikkan secara langsung bagaimana Panca Cinta dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Ia memberikan contoh bahwa guru tidak cukup hanya membuat peserta didik memahami konsep sebuah materi pelajaran. Lebih jauh, peserta didik perlu diarahkan agar mampu memahami manfaat ilmu yang dipelajari, menyadari relevansinya dengan kehidupan, kemudian membiasakan diri mengimplementasikan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi mampu membentuk kesadaran dan karakter peserta didik.
Menurut Shofar, proses tersebut harus tumbuh dari kesadaran, bukan karena tekanan. Peserta didik perlu melakukan kebaikan karena memahami dan mencintai nilai yang dipelajarinya, bukan karena takut terhadap ancaman atau hukuman dari guru.
Ia juga mempraktikkan penerapan KBC dalam kegiatan kokurikuler dan budaya madrasah, sehingga para peserta mendapatkan gambaran yang lebih konkret mengenai bagaimana Panca Cinta dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan.

IHT Berlangsung Interaktif dan Praktis

Penyampaian materi berlangsung interaktif. Narasumber menggunakan pendekatan praktis dengan memberikan contoh-contoh yang dekat dengan aktivitas guru sehingga materi lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Para peserta tampak mengikuti kegiatan dengan antusias dan gembira. Selain memperoleh pemahaman konseptual mengenai KBC, peserta juga mendapatkan pengalaman praktik dalam merancang pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta.
Melalui kegiatan IHT tersebut, MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Implementasi KBC diharapkan tidak berhenti sebagai konsep dalam dokumen pembelajaran, tetapi benar-benar hadir dalam proses pembelajaran, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, serta menjadi bagian dari budaya madrasah.

Kontributor : Masithoh

Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!